Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Aku Tuli untuk Kata Maaf (Cerpen)


Aku sudah tak kuat mendengar itu lagi. Kata ‘maaf’, sudah berapa kali dia mengucapkan itu. Telingaku sudah tak kuat lagi mendengar itu. Aku sudah tuli dengan kata itu.  


“Lia, aku benar-benar minta maaf. Aku masih pingin sama kamu. Aku belum mau mengakhiri hubungan kita. Ayo buka pintunya, Lia. Aku mohon”.
Teriakan Naufal beradu keras dengan derasnya hujan malam ini. Tapi sayang, telingaku sudah tak kuat mendengarnya. Sudah berapa kali dia mengucapkan itu. Aku sudah muak mendengar kata itu. Kata „maaf‟. Aku benar-benar sulit mendengar kata itu. Aku juga tak menggubris permintaannya untuk bertemu, di depan gang kosku. Jarum panjang dan pendek menyatu di angka 12.
Mataku masih belum terpejam. Masih merasakan pedih yang begitu perih. Setelah sebuah malapetaka yang meruntuhkan indahnya cinta, antara aku dan Naufal,
seminggu lalu.

***



Post a Comment for "Aku Tuli untuk Kata Maaf (Cerpen)"