Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Antara Momen Idul Adha dan Hewan Kurban

https://www.kompasiana.com/www.caritauinfo.com/5600de8d5c7b61831fe3bebe/makna-tangisan-hewan-kurban-sedih-ataukah-bahagia

Idul Adha merupakan lebaran kedua bagi umat Muslim seluruh dunia untuk membuktikan ketaatan mereka kepada Allah dalam berbagi sedikit harta yang telah dilimpahkan Allah pada Umat-Nya. Idul Adha merupakan momen spesial umat muslim untuk saling berbagi dengan kerabat, tetangga maupun yang membutuhkan berupa hewan kurban. Nah, di momen inilah kita ditanamkan makna dari Idul Adha kepada generasi muda, mulai dari TK, SD, SMP, SMA bahkan kuliah, ya kita diajarkan untuk dapat berbagi rezeki, misalnya saja, anak TK dan SD diajarkan ha untuk berbagi dengan membawa dua butir telur atau lebih dan  hasilnya disumbangkan kepada kaum tidak mampu. 

Bermula dari rangkaian pemotongan hewan kurban inilah aku benci akan daging hasil kurban, baik daging kambing, daging sapi maupun daging kerbau. Sejak kecil aku sangat tidak menyukai daging mamalia meski halal untuk dikonsumsi. Kenapa aku tidak suka memakannya? karena sejak kecil aku selalu menonton proses pemotongan hewan kurban di belakang rumah, kebetulan halaman belakang rumahku dijadikan tempat tinggal sementara hewan kurban sebelum dipotong, dan kamu tahu, apa yang aku lihat? yang membuatku tidak mau memakan makanan yang lezat kata orang itu? aku melihat hewan sembelihan itu menangis, megeluarkan air mata, mengeluarkan suara melenguh yang lirih dan mengiba, suara yang menyayat hati apalagi saat hewan kurban akan dan sedang disembelih, aku tidak tega mendengar dan melihatnya, sejak itu, aku tidak mau memakan daging, aku kasihan kepada hewan kurban tersebut, darah yang mengalir setelah dipotong tercium amis dan terekam dalam otakku yang sering membuatku mual.

Aku tidak bisa dipaksa memakan daging kurban, bahkan jika aku mencicipi sedikit saja, aku muntah-muntah dan demam, jangankan mencicipi, mencium baunya saja aku sudah muntah, entah apa yang memerintahkan otak dan hati ini menolak untuk memakannya. Setiap hari raya kurban aku menjauhi mesjid atau surau dan tempat pemotongan hewan, setiap Idul Adha, aku disediakan masakan khusus dari ibu dan Mak Wo, yakni rendang ayam, kebetulan, abang sepupuku juga tidak menyukai daging mamalia, setiap mencium aroma amis dari daging kurban, kami sering mual dan muntah, jadi kami selalu menjauhi makanan yang berbau daging kurban dan daging mamalia lainnya.

Bahkan sampai awal masuk  SMA aku tidak pernah menyentuh jenis olahan dari daging tersebut, meski hasil olahan daging tersebut sangat menggoda dan terlihat menggiurkan, aku tetap tidak mau menyentuhnya. Namun dengan berlalunya waktu dan aku terbiasa mengolah daging di rumah kakak dan seminggu sekali kakakku selalu membeli daging dan aku yang memasaknya, terkadang aku membuat menu rendang, dendeng lambok, sup daging, kalio, baga, pangek  maupun tunjang dan gulai cincang, membuatku lambat laun terbiasa dengan aroma amisnya dan mencicipi sedikit demi sedikit hasil masakanku, dan akhirnya aku terbiasa dengan menu olahan daging, namun tetap saja masakan olahan daging sering membuatku muak dan bosan, akhirnya aku menemukan pelarian dari daging yakni rendang jengkol, meski sesekali tetap menikmatinya dalam porsi yang lebih sedikit. 

Post a Comment for "Antara Momen Idul Adha dan Hewan Kurban"