Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Morotai: Perpaduan Surga Para Penyelam dan Jejak Perang Dunia II yang Layak Dikunjungi Bersama Teman Hidup Traveloka

Seketika, rasanya tertusuk anak panah bertubi-tubi. Hanya dengan pertanyaan sepele dari driver taksi yang membawaku dari bandara Soekarno Hatta ke Tebet. Sakit, tapi tak berdarah. Jlebb…

Morotai

Kala itu, tahun 2016. Ketika perjalanan pulang dari liburan panjang di Labuan Bajo. Saya pun bergegas mencari taxi. Sebenarnya tidak sulit untuk mendapatkan. Tetapi entah mengapa, malam ini terasa begitu lama antriannya. Padahal, ada rasa membuncah, ingin segera rasanya tiba di kediaman, rebahan dan menyantap seporsi bakso gondrong langganan.

Tiga puluh menit berlalu, akhirnya dapat juga taxinya. Emang sih, untuk urusan transportasi dari bandara sudah terbiasa menggunakan taxi biru dengan logo burung ini. Baik ketika urusan kerja atau hanya sekadar balik dari liburan.

Jujur nih ya. Jenis pekerjaan saya yang banyak dinas ke luar kota juga sangat-sangat mendukung akan hobi jalan-jalan. Dulunya sih, sebelum kerja di kantor sekarang, baru mengoleksi 5 provinsi doang. Tetapi, sekarang. Lumayan banget nambahnya, sudah mencapai 25 provinsi.

Kelap-kelip lampu sepanjang toll dalam kota, kali ini kembali membuatku tersadar. “I'm at home now”. Sesekali, percakapan ringan dengan supir Taxi juga terlontarkan. Lumayan, sang bapak driver bisa menjadi teman ngobrol.

“habis dari mana pak”

“dari Labuan Bajo”

“tapi kok sendirian sih pak. Emang keluarganya tidak diajak?”

“masih bujang pak. Jadi aman saja dan bebas kesana-kemari”

“ooh gitu. Kok belum nikah pak. Padahal sudah sering jalan-jalan kesana-kemari. Melihat dunia lebih luas pula. Dari segi kerja juga sudah mendukung sepertinya. Apalagi yang ditunggu pak

Jlebb. Biasanya pertanyaan seperti ini sudah sering banget terdengar. Tapi kok sekarang rasanya benar-benar menusuk ya. Ah. Bismillah. Semoga dimudahkan. 

“mohon doanya ya pak. Semoga ketemu jodohnya”.

Alhamdulillahnya setelah percakapan sepintas bersama Driver Taxi tahun 2016 tersebut, akhirnya menjadi momentum titik balik saya menemukan #temanhidup. Hanya selang beberapa bulan, saya pun menikah di tahun 2017.

Istri saya juga sangat suka dengan travelling. Makanya semenjak menikah, kami selalu menyempatkan diri liburan ke luar kota. Bahkan sempat liburan ke Turki di akhir tahun 2019 secara mandiri bersama anak pertama kami.

Berawal Dari Kebiasaan dan Berakhir dengan Pengalaman Mengesankan

Duit bisa dicari tetapi pengalaman tidak bisa terulang lagi”. Ini lah yang membuat saya sering banget termotivasi untuk melihat dunia lebih jauh lagi. Apalagi didukung dengan kebiasaan suka memplanningkan perjalanan dengan matang.

September 2019, saat nongkrong ke Mall Kota Kasablanka. Eh, entah mengapa melihat keramaian di salah satu booth. Tampak dari luar memang menarik perhatian. Tiba-tiba naluri dan rasa penasaran, ikut merespon.

Gayung bersambut”. Ternyata keramaian tersebut adalah acara Epic Sale Traveloka. Nggak nyangka, acara keren Traveloka ada juga di Kota kasablanka. Selama ini, hanya ikut via online saja di aplikasinya. Ditambah lagi, boothnya benar-benar besar dan ditata ala “traveller hunters”.

Bukan hanya menyajikan berbagai diskon promo, tetapi juga menghadirkan berbagai games kreatif. Saya pun ikut menikmati nuansa dan atmosfernya, sambil menunggu Epic hours seperti pemberitahuan dari MC di panggung utama.

Epic Sale Traveloka
Kali ini benar-benar excited. Menunggu Epic Hour, rasanya dag dig dug. Karena bakal menyajikan diskon gila-gilaan untuk hotel. Saya sendiri tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Mendapatkan hotel di Turki adalah target kali ini. Loh kok, hotel? Emang sudah punya tiket penerbangan?

Jawabannya, Yes.

Kebiasaan beli tiket ketika promo, membuat saya dan istri berhasil mendapatkan tiket terbaik ke Turki. Tinggal hotel yang belum. Makanya, pas hadir di Epic Sale Traveloka benar-benar excited. 

Tepat ketika MC menghitung mundur jam hunting Epic hours. Dengan cekatan, saya membuka aplikasi, hunting hotel dan menemukan harga terbaik kala itu. Namanya, The Marions Suite Hotel. Untuk 2 malam plus breakfast seharga 600 ribuan. Surprise banget. Bisa dapat hotel semurah itu di Istanbul pula.

Book Hotel

Akhirnya liburan bersama istri dan anak pertama ke Turki berjalan menyenangkan. Semuanya diurus sendiri dengan biaya terjangkau dan pastinya mendapatkan fasilitas terbaik. Untung banget ada app Traveloka dengan Epic Sale nya.

Inspirasi Dari Film

Dahulu, saya sendiri tidak menyangka bahwa terlahir sebagai anak nelayan di pesisir pantai Sulawesi Tengah bisa menginjakkan kaki dan kerja di Jakarta. Semuanya berawal dari peta dunia yang selalu terlihat kala berkunjung ke perpustakaan sekolah.

Mencari posisi Sulawesi Tengah dari luasnya peta dunia di dinding membuat saya berpikir bahwa dunia ini sangat luas ternyata. Sulawesi Tengah saja hanya segini kecilnya, masih banyak daerah dan negara lain yang begitu luas. Mereka pasti hidup dengan cara masing-masing. Punya budaya dan pastinya keindahan alam tersendiri

Sejak saat itu, saya selalu bercita-cita ingin eksplor dan lihat dunia lebih jauh lagi. Mulai tertarik nonton film dan melihat tempat-tempat indah serta menarik di setiap adegannya.

Lambat-laun, perlahan-lahan tercapai. Banyak sekali film yang memotivasi saya untuk melihat dunia lebih dekat dan langsung berkunjung ke sana. Sebut saja, film The Beach yang dibintangi Oleh Leonardo DiCaprio. Hiruk pikuk Thailand dan keindahan pantai Maya Beach di Krabi membuat saya terpana. Bisa-bisanya ya, ada pantai sekeren itu.

Maya Bay-Phuket
Maya Bay sebagai lokasi syuting film The Beach

Begitupun dengan film Tomb Rider yang dibintangi oleh Angelina Jolie yang menampilkan Angkor Wat di Siem Riep Kamboja pada beberapa adegan filmnya. Semuanya memberikan inspirasi dan motivasi tersendiri untuk berkunjung ke sana.

Angkor Wat
Angkor Wat-Siem Riep sebagai tempat syuting Tomb Rider

Alhamdulillahnya, semua tercapai. Dari berbagai film, menginspirasi saya untuk bisa berkunjung ke destinasi tersebut.

Menyelami Pengetahuan dan Destinasi Lokal Melalui Novel

Sering dengar kalau, ‘buku adalah sumber pengetahuan’. Dari buku yang dibaca, berbagai informasi akan didapatkan. Begitupun yang terjadi pada diri saya sendiri.

Sedari dulu, baca buku sudah menjadi kebiasaan. Bahkan ketika kerja pun selalu menyempatkan diri. Terkadang malah punya target. Saat perjalanan dinas keluar kota, harus menyelesaikan satu buah novel.

Hingga saya menemukan novel berjudul, Renjana Biru di Morotai karya Kirana Kejora. Menariknya, novel ini ditulis berdasarkan kisah nyata sang penulis. Bukan hanya tertarik membaca karena penulisnya adalah seorang writerpreneurship novelis Best Seller Indonesia tetapi karena judulnya. Tertulis dengan besar, kata “Morotai” yang memang sudah sangat lama menjadi destinasi impian saya sekaligus istri. 

Novel Renjana Biru di Morotai
Dari membaca novel ini dan melihat beberapa akun instagram tentang Morotai, rasa ingin berkunjung kesana kembali membuncah. Apalagi, pada saat pandemi, saya dan istri belum pernah liburan.

Tapi kok bisa Morotai sih? Emang disana ada apa saja. Dari namanya juga aneh, tidak sefamiliar destinasi wisata domestik lainnya.

Yes. Bener banget. “Tak kenal maka tak sayang”, itulah yang sering terjadi buat orang yang tidak mengenal Morotai.

Morotai dahulu sebuah kerajaan kecil yang diberi nama Kerajaan Moro, di daratan timur Pantai Halmahera Utara, mulai dari Tanjung Bisoa di utara sampai di Tobelo. Karena letaknya di daratan Halmahera, dia disebut juga dengan Morotia ata Moro Daratan. Sebagian lagi wilayahnya terletak di pulau seberang laut yang dinamakan Morotai atau Moro Lautan. Maka, sebenarnya nama Morotai mempunyai arti Moro Lautan” (Novel Renjana Biru di Morotai hal. 176)

Morotai sebagai Destinasi Impian

Namanya destinasi impian, pastinya dong ada alasannya. Bukan ujug-ujug langsung muncul dipikiran. Begitupun dengan Morotai. Saya sendiri sedari belajar sejarah sudah sangat tertarik dengan Morotai. Minimal ada 3 hal, mengapa Morotai menjadi destinasi impian saya bersama sang istri.

Pertama nih ya. Morotai adalah surga para penyelam. Di sana, spot dive sangat banyak dan beragam. Sebut saja dive site world war wrecks, Tanjung Wayabula, Dodola point, Batu Layar point, Tanjung Sabatai Point, hingga Saminyamau. Semuanya adalah surga laut buat para penyelam. 

Spot diving Morotai
Blacktip Mitita sebagai salah satu spot diving di Morotai (sumber: morotaiindonesia.com)

Nggak hanya itu saja, buat yang ingin bersahabat dengan ikan hiu, bisa banget loh menjelajah spot Tanjung Gorango dan Black Tip Mitita. Disini bakal ada White Tip, Black Tip, Grey Reef Shark dan Walking Shark. Iya. Bener. Walking Shark. Jadi, Walking Shark merupakan spesies hiu yang menggunakan empat siripnya untuk berjalan. Menarik banget bukan. Makanya, Morotai itu surga buat pecinta diving.

Alasan kedua, karena Morotai menyimpan banyak peninggalan sejarah perang dunia II.  Di Indonesia sendiri, Morotai merupakan salah satu lokasi saksi sejarah hadirnya perang dunia II. Kala itu, ketika Jenderal Douglas MacArthur dengan sekutu membangun pangkalan udara di Morotai pada tahun empat-empat dengan tujuh lintasan. Tahu nggak sih, kalau tujuh lintasan tersebut salah satunya adalah Pitu strip sebagai basecamp perang dunia II yang masih bisa dilintasi hingga hari ini. 

Bahkan di Morotai, ada pulau Zumzum dimana MacArthur pernah tinggal dan dijadikan sebagai tempat tinggal, persembunyian hingga penyusunan strategi perang bersama sekutu. Di pulau Zumzum ini pula kita bisa menyaksikan Patung MacArthur setinggi 20 meter di dekat dermaga. Makanya, buat pecinta sejarah wajib banget ke Morotai.

Patung MacArthur
Patung MacArthur di pulau Zum Zum (sumber: bobo.grid.id)

Dan alasan terakhir alias ketiga yang menjadikan Morotai sebagai destinasi impian karena memiliki banyak pantai dan pulau yang sepi dari hiruk pikuk kehidupan kota. Ditambah lagi, kami berdua memang suka bersantai di pantai. Mendengar deburan ombak dan angin sepoi-sepoi. Pastinya bakal menambah romantisme. Saya sih yakin, tidak ada yang menolak jika di depan mata tersaji pemandangan hamparan pasir putih dan lekukan pantai yang bersih. Makanya, kami pun memilih Morotai sebagai destinasi idaman.

Untuk urusan tempat menginap selama di Morotai, kami sendiri punya wishlist hotel. Sama seperti ketika kami berlibur ke Turki, selalu memilih penginapan nyaman dan pastinya punya ciri khas. Setelah melihat-lihat di Traveloka Hotel, akhirnya nemu nih resor yang pastinya bakal terasa nyaman ketika nantinya berkunjung ke Morotai. Namanya Resor Moro Ma Doto. Letaknya di Morotai Timur.

Resort di Morotai
Resor Moro Ma Doto di aplikasi Traveloka

Bentuknya unik, terbuat dari kayu dengan ornamen khas Morotai sebagai interior. Untuk fasilitas juga lengkap. Ditambah lagi ada kolam renang outdoor. Selain itu, posisi resor berada di tepian pantai. Jadi, bakal serasa punya pantai pribadi.

Berharap sih. Entah kapan waktunya, destinasi idaman Morotai bisa saya kunjungi bersama teman hidup. Karena bagi kami, hidup itu bukan hanya tentang umur yang terus bertambah membersamai. Tetapi hidup itu, tentang kenangan indah yang tercipta bersama dengan orang-orang tersayang.

Yuk ‘#LihatDuniaLagi dan bikin #StaycationJadi’ dengan Traveloka! Langsung meluncur ke Traveloka lewat link ini:  https://trv.lk/kompetisi-lihatdunialagi-bloggerperempuan

Post a Comment for "Morotai: Perpaduan Surga Para Penyelam dan Jejak Perang Dunia II yang Layak Dikunjungi Bersama Teman Hidup Traveloka"